Februari 10, 2026

Sharing Session: Strategi Peningkatan Kinerja melalui Remunerasi di PTKIN Jawa Timur

Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) Jawa Timur bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya dan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar kegiatan daring bertajuk “Sharing Session: Strategi Peningkatan Kinerja melalui Remunerasi di PTKIN Jawa Timur” pada hari rabu (28/1/2026). Kegiatan berlangsung melalui Zoom Meeting pukul 13.00 WIB diikuti oleh pustakawan serta tenaga kependidikan dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang implementasi remunerasi sebagai instrumen peningkatan kinerja dan tata kelola perpustakaan.

Pada kegiatan Sharing Session bertema Strategi Peningkatan Kinerja melalui Remunerasi di PTKIN Jawa Timur. Ketua APPTIS Jawa Timur Bapak Hairul Agust Cahyono, M.Hum menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan menekankan pentingnya forum berbagi pengetahuan bagi pengelola perpustakaan. “Tema yang kita angkat hari ini sangat relevan dengan kondisi PTKIN di Jawa Timur yang sebagian besar telah bertransformasi menjadi UIN. Kita perlu belajar bersama tentang remunerasi ketika PTKIN sudah berstatus BLU, sehingga dapat menambah wawasan dan strategi dalam menjalankan tugas”. Bapak Hairul juga menyatakan bahwa kehadiran narasumber dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Sunan Ampel Surabaya menjadi kesempatan berharga bagi kita semua para pustakawan untuk memahami praktik nyata penerapan remunerasi. Pengalaman kedua institusi tersebut dapat menjadi rujukan bagi PTKIN lain yang sedang bersiap menuju BLU.“Kita perlu belajar dari Bapak Mufid dan Bapak Hary bagaimana meningkatkan kinerja perpustakaan dan memenuhi poin-poin kinerja setiap bulan. Harapannya, materi yang disampaikan dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan implementasi remunerasi di masing-masing PTKIN” tambahnya.

Dalam sesi pemaparan Bapak Mufid, S.Ag., SS., M.Hum. menjelaskan transformasi kesejahteraan pegawai seiring perubahan status perguruan tinggi menuju Badan Layanan Umum (BLU). Menurutnya, peralihan dari Tunjangan Kinerja (Tukin) ke remunerasi menandai meningkatnya tingkat maturitas institusi dalam pengelolaan keuangan “Kalau masih tukin, itu biasanya menandakan institusi belum sepenuhnya mandiri. Ketika sudah BLU, maka remunerasi menggantikan tukin dan dikelola secara institusional” Tutur Bapak Mufid. Bapak Mufid juga menguraikan konsep GRID (grade jabatan) sebagai dasar penentuan nilai jabatan pustakawan. GRID berada pada rentang 1 hingga 17 dengan setiap jabatan fungsional memiliki posisi yang berbeda. Di UIN Malang, pustakawan pertama berada pada GRID 8, pustakawan muda pada GRID 9, dan pustakawan madya pada GRID 11. Sementara pustakawan utama umumnya berada pada GRID 13.Besaran poin pada setiap GRID tidak bersifat seragam antar perguruan tinggi karena sangat bergantung pada kemampuan keuangan BLU. “Institusi yang BLU-nya sudah matang tentu bisa memberikan nilai poin yang lebih besar dibanding institusi yang masih dalam tahap awal”.

Sementara itu, Narasumber kedua Bapak Hary Supriyatno, S.Ag., M.Pd., M.SIP Sekretaris APPTIS Jawa Timur membagikan pengalaman implementasi remunerasi di UIN Sunan Ampel Surabaya yang telah berlangsung sejak 2015. Beliau menceritakan bahwa transisi dari tukin ke remunerasi tidak selalu berjalan mulus dan sempat diwarnai dinamika. Seiring waktu, sistem remunerasi justru terbukti mendorong perubahan budaya kerja. Di UIN Surabaya, remunerasi dihitung berdasarkan P1 dan P2 dengan sistem presensi berbasis wajah serta aplikasi kinerja yang merekam SKP dan aktivitas profesional. Keterlambatan atau pulang lebih awal akan berdampak pada pemotongan remunerasi. Bapak Hary menilai remunerasi memberikan dampak nyata pada peningkatan disiplin, produktivitas dan loyalitas pegawai. Sistem reward and punishment membuat pegawai lebih tertib dalam kehadiran, lebih aktif mencari tugas tambahan dan lebih produktif dalam aktivitas profesional. “Kalau sudah menyangkut potongan remun, biasanya orang menjadi lebih disiplin. Produktivitas meningkat karena orang berlomba-lomba memenuhi poin kinerja”. Beliau juga menambahkan bahwa remunerasi yang lebih kompetitif dibanding tukin, membuat pegawai lebih betah dan fokus mengembangkan karier di perguruan tinggi.

Bapak Mufid menambahkan pentingnya advokasi kepada pimpinan perguruan tinggi agar memahami kompleksitas tugas pustakawan. Menurutnya, Pustakawan memiliki peran strategis yang tidak hanya sebatas layanan koleksi tetapi juga pengelolaan informasi, literasi digital, penelitian dan pengembangan akademik. “Pustakawan memiliki tugas dan fungsi yang sangat kompleks, sehingga harus mendapatkan apresiasi yang setara dengan kompleksitas pekerjaannya. Jangan sampai penetapan grade jabatan tidak mencerminkan beban dan tanggung jawab Pustakawan”.

Beliau optimis bahwa penerapan remunerasi berbasis kinerja justru dapat mendorong peningkatan profesionalisme dan produktivitas pustakawan. Sistem ini membuka peluang bagi pustakawan untuk memperoleh penghasilan lebih baik melalui peningkatan kinerja, inovasi layanan dan kontribusi ilmiah. Kegiatan sharing session kali ini menjadi forum penting bagi Pustakawan PTKIN Jawa Timur untuk memahami strategi implementasi remunerasi dan dampaknya terhadap kinerja institusi. Dengan sistem remunerasi, perpustakaan di lingkungan PTKIN diharapkan mampu mendorong profesionalisme Pustakawan sekaligus memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat layanan akademik dan pengembangan ilmu pengetahuan.