
“ Pertama – tama saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman Perpustakaan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo yang telah bekerjasama dengan APPTIS Jatim. Kegiatan ini merupakan upaya bersama mempersiapkan rekan-rekan PTKIN di Jawa Timur. Saat ini di Jawa Timur sudah ada tujuh PTKIN. UIN Tulungagung telah melaksanakan akreditasi tahun kemarin, UIN Jember akan melaksanakan tahun ini pada bulan desember dan sisanya tahun depan. Kami ingin memberikan pemahaman tentang standar akreditasi perpustakaan universitas terbaru beserta komponen yang harus dilengkapi dalam penyusunan dokumen akreditasi. Harapannya adalah kita semua bisa tetap unggul dalam pelaksanaan akreditasi di masa mendatang” itulah keynote speaker dari Ketua APPTIS Jatim Hairul Agust Cahyono, M.Hum pada kegiatan webinar bertajuk “Memahami Standar Akreditasi Perpustakaan dan Prosesnya” pada hari Kamis (9/10/2025). Beliau menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam mempersiapkan seluruh perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) di Jawa Timur untuk menghadapi proses akreditasi perpustakaan sesuai dengan Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Nomor 196 Tahun 2025 tentang instrumen akreditasi.
Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) Jawa Timur bekerja sama dengan Perpustakaan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo sukses menyelenggarakan kegiatan webinar bertajuk “Memahami Standar Akreditasi Perpustakaan dan Prosesnya” secara daring melalui Zoom dan YouTube Live. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam di seluruh Indonesia. Webinar ini menghadirkan dua keynote speaker yakni Kepala Perpustakaan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Bapak Dr. H. Kardi, S.Ag., S.S., M.Hum, Ketua APPTIS Jatim Bapak Hairul Agust Cahyono, M.Hum, Wakil Rektor 1 UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Bapak Prof. Dr. H. Lutfhi Hadi Aminuddin, M.Ag untuk membuka acara dan narasumber utama Bapak Agus Rifa’i, Ph.D. Kepala Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Asesor Akreditasi Perpustakaan.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Bapak Prof. Dr. H. Lutfhi Hadi Aminuddin, M.Ag menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara APPTIS Jatim dan Perpustakaan UIN Ponorogo. Beliau menegaskan bahwa perpustakaan adalah jantung perguruan tinggi sehingga kolaborasi seperti ini sangat penting dalam membangun budaya akademik yang unggul.“Atas nama pimpinan universitas, kami menyambut gembira dan mengapresiasi kegiatan ini. Kolaborasi seperti ini adalah bentuk nyata dalam membangun kemajuan bangsa. Kita semua sepakat bahwa perpustakaan adalah jantung perguruan tinggi. Oleh karena itu, pemahaman terhadap standar akreditasi menjadi penting untuk memastikan kualitas dan kredibilitas lembaga kita di masa depan” tutur beliau.
Kepala Perpustakaan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Bapak Dr. H. Kardi, S.Ag., S.S., M.Hum. menuturkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang dianggap sangat penting dan relevan. Ia menjelaskan bahwa meskipun kegiatan ini disiapkan dalam waktu yang relatif singkat, namun menjadi langkah strategis dalam menyongsong proses akreditasi tahun depan. “Alhamdulillah, walaupun dengan persiapan yang cukup singkat kita dapat melaksanakan kegiatan dengan baik. Tahun depan kami sudah harus siap dalam pelaksanaan akreditasi dan melalui forum ini kita dapat menyamakan persepsi serta memahami formula dan format baru yang ditetapkan oleh Perpusnas. Terima kasih juga kepada narasumber Bapak Agus Rifa’i dan seluruh peserta dari berbagai PTKI di Indonesia yang telah berpartisipasi aktif ”.

Webinar berjalan lancar dan penuh antusias menjadi ruang diskusi strategis bagi para pengelola perpustakaan untuk memperkuat pemahaman terhadap standar akreditasi terbaru. APPTIS Jatim berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut sebagai sarana pembinaan, kolaborasi dan peningkatan kapasitas pustakawan di lingkungan perguruan tinggi Islam di Indonesia. Bapak Agus Rifa’i, Ph.D. memaparkan secara lugas tentang enam komponen utama akreditasi perpustakaan. Beliau berbagi pengalaman dan praktik terbaik (best practices) dari berbagai perguruan tinggi yang telah berhasil mendapatkan akreditasi unggul. Penyampaian yang lugas, komunikatif dan disertai contoh konkret menjadikan sesi ini berlangsung interaktif.


